ELEKTRO INDONESIA             Edisi ke Sembilan, Oktober 1997

TELEKOMUNIKASI

Dalam Mewujudkan Masyarakat Informasi Indonesia

A man needs a plan, he needs direction. If he doesn't have this, he has nothing.
(Louis L'Amour)

Bila suatu ketika saya dalam pesawat terbang yang membawaku lepas landas di Cengkareng, terlihat olehku betapa besarnya kota Jakarta. Tetapi terus terang yang kubayangkan olehku bukanlah gedung-gedung pencakar langit yang menjulang disepanjang jalan Sudirman, atau Thamrin, ataupun segitiga emas. Yang kulihat adalah betapa hiruk pikuknya jalan-jalan protokol, begitu berdesak-desaknya mobil yang membawa mereka ber-'commutting' pergi dari rumah ketempat kerja dan sebaliknya. Kalau saja mereka bisa mengerjakan pekerjaan kantornya dirumah, bisa mengadakan laporan kepada bossnya melalui video conference, bisa mengakses data pasar bursa dari PC dari studionya di rumah, dan bisa mengadakan transaksi secara EDI dari terminal handphone pita lebar, tentulah tak perlu capai-capai lagi ngantai masuk tol atau bermacet ria di jalan Thamrin.

Betapa akan berkurangnya tingkat polusi itu di Jakarta itu nantinya. Mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi demikian mudahnya mengerjakan tugas-tugasnya dan dengan cepat mencari informasi terbaru tentang suatu subyek dengan kemampuan akses kepada jaringan perpustakaan ilmiah internasional pitalebar , dengan harga relatif murah. Dan orang Indonesia, yang paling dhemen nonton TV dapat menjangkau segudang pilihan film hiburan dan sinetron lewat Multimedia service, yang sudah barang tentu melalui jaringan pita lebar. Sebuah pabrik multinasional yang bergerak dibidang manufaktur elektronik dapat dengan leluasa berhubungan dengan R&D yang berpusat di Washington DC mengadakan transfer data jutaan Megabytes dengan melalui jaringan pita lebar. Ibu-ibu tak lagi perlu datang ke supermarket untuk berbelanja dengan risiko macet dijalan, karena dengan electronic shopping semua kebutuhannya dicukupi dan barang-barang diantar langsung ke rumah. Bagi pemburu permata serasa lebih aman bila transaksinya dilakukan secara elektronik untuk menghindari risiko pemalsuan atau robbery di jalan . Tidak akan ada masalah bagi mereka yang putus sekolah untuk dapat menambah keterampilan dan atau diploma yang lain karena ada program tele-edukasi yang disiarkan melalui jaringan pita lebar ke pusat-pusat perpustakaan di balaidesa-balaidesa, maupun dalam cybercafe dengan kecepatan-kecepatan pengiriman data kecepatan tinggi. Penduduk kota Jakarta dapat berbincang-bincang dengan dewan perencanaan kota ataupun gubernur tentang masalah kurangnya lahan untuk taman-taman penghias kota, atau bila paguyuban scuba diving akan menyelenggarakan kursus menyelam bagi remaja hari Sabtu akhir bulan yang akan datang, semua itu diberitahukan lewat buletin elektronik. Singkatnya Jakarta akan berubah menjadi kota elektronik, menjadi cyber city.

Ilustrasi diatas hanya menggambarkan sekelumit fragmen kehidupan dari masyarakat metropolitan seperti Jakarta, yang dengan adanya sistem prasarana telekomunikasi dan informasi yang memadai, maka mereka benar-benar akan mengubah pola kehidupannya, mengubah pola kehidupan seluruh kota , menjadi masyarakat informasi. Kota yang menjadi bersih menghijau, bebas polusi, terasa lengang tetapi penduduknya cerdas-cerdas dan produktif, dan sangat haus akan informasi. Dari seluruh gambaran diatas, sesuatu yang mutlak diperlukan ialah jaringan pita lebar. Bila bangsa ini akan memposisikan dirinya sebagai bangsa cerdas dan produktif, bangsa yang selalu membangun yang berazazkan lingkungan dan kesinambungan, maka prasarana utama yang harus dipersiapkan ialah jaringan informasi yang memungkinkan seluruh macam sinyal yang berkisar dari frekuensi suara (pita sempit), fax, data, sampai kepada gambar dan video, serta multi media lainnya dapat dilewatkan dengan tanpa cacat dan dengan harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak boleh ada diskriminasi dalam bidang informasi dan hak berkomunikasi kepada seluruh warga masyarakat, tak peduli apakah ia tinggal di Pondok Indah, di Kampung Rawa, atau di Gunung Kidul. Ia harus bisa berkomunikasi dengan siapapun dan untuk kepentingan apapun dalam kehidupannya.

Masyarakat informasi Indonesia itu harus sudah mulai dipersiapkan dan dibentuk mulai sekarang ini. Potret yang ada nampaknya masih memperlihatkan kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya informasi yang akurat. Teknologi Informasi, terutama komputer, memang sudah mulai dibutuhkan dan dirasakan merupakan kebutuhan yang tak bisa ditawar lagi, terutama oleh para intelektual, pelajar, para profesional dan kalangan bisnis. Tetapi bagi masyarakat kelas bawah, hal tersebut masih bisa dianggap mewah. Padahal di Amerika, ibu-ibu rumah tangga banyak yang berbisnis dengan memanfaatkan PC, maupun mendidik sikecil dengan mengenalkan kepada komputer dan aplikasinya sejak awal. Dilain pihak penggunaan PC untuk suatu yang lebih menguras kemampuan hitung komputer ternyata masih terbatas. Dalam kehidupan bisnis dan pemerintahan nampak pengembangan sistem informasi nya masih harus ditingkatkan lagi, data sering kurang mengalami pembaharuan dan akibatnya keputusan menjadi keliru dan tidak mencapai sasaran. Jadi memang ada keterkaitan yang amat erat antara perilaku disiplin dan perilaku apik dengan sikap cerdas manusia yang menggunakan informasi yang akurat dalam menjalankan tata kehidupan sosial dan ekonomi, maupun karirnya..

Ditengah berlombanya bangsa-bangsa untuk menuju masyarakat informasi, sesungguhnya yang terjadi adalah bergeraknya bangsa-bangsa ini menuju kepada sasaran bersama yaitu tercapainya masyarakat informasi yang saling bisa berkomunikasi , dan saling bisa memahami satu dengan yang lain. Dan itu pada tingkat komunitas, tingkat nasional, regional, maupun internasional. Alangkahnya pincangnya kehidupan dunia ini karena perbedaan yang menyolok tidak hanya antara negara-negara utara-selatan, antara negara industri dan negara agraris, antara bangsa yang kaya dan yang miskin, antara penduduk urban dan penduduk pedesaan tetapi juga antara masyarakat informasi dan masyarakat yang awam informasi. Manusia, komunitas dan bangsa ini diciptakan sama, kenapa mereka tidak seiring setujuan ke arah yang diidamkan bersama? Negeri yang satu mencetuskan National Information Infrastructure (NII) dan seyogyanya seluruh negeri juga mempunyai obsesi yang sama. Tetapi sayangnya negeri-negeri itu berjalan sendiri-sendiri dan terutama negara-negara industri selalu memposisikan dirinya pada garis terdepan dari setiap perkembangan teknologi, terutama dalam teknologi informasi. Namun kita juga menyadari bahwa mereka dapat melaksanakan tugas semacam itu karena cadangannya cukup besar, ditunjang dengan sumberdaya manusia yang memadai, untuk dapat merealisasikan sistem infrastruktur bagi Teknologi Informasi, yang basisnya ialah jaringan telekomunikasi pita lebar yang memadai bagi seluruh bangsa, menyangkut investasi yang amat besar.

Jadi unsur dari masyarakat informasi itu minimal adalah
  1. infrastruktur jaringan telekomunikasi pita lebar yang harganya terjangkau oleh masyarakat,
  2. masyarakat pemakai dan penyedia informasi,
  3. sumberdaya-sumberdaya manusia terampil dalam teknologi informasi yang demikian besar varian-nya,
  4. industri-industri teknologi informasi yang demikian beragam dan sangat luas, dan
  5. otoritas (regulator) yang mengatur tentang teknologi informasi dan bersifat sebagai katalisator yang efisien.

Dalam masyarakat yang cukup paternalistik seperti masyarakat Indonesia sebenarnya sangat menguntungkan bagi otoritas untuk memberikan pengarahan, petunjuk, serta dorongan (moril dan fisik).

Darimana kita mulai, kemana dan bagaimana caranya? Secara garis besar Deparpostel dan jajarannya telah menampung isu ini dalam suatu visi yang disebut Nusantara-21. Yakni akan disediakannya jaringan informasi pita lebar berbentuk cincin-cincin yang berfungsi sebagai jalan raya informasi diseluruh Nusantara. Tentunya berkaitan dengan 'Jalan Raya' tersebut masih diperlukan pula 'jaringan pohon' dan 'jaringan akses'. Dan yang terpenting ialah 'kendaraan-kendaraan' informasi yang akan menggunakan jalan-jalan tersebut, yang diperoleh dari aplikasi teknologi informasi.

Ada beberapa pemikiran dalam implementasi Nusantara-21 (N-21). Yang pertama adalah, jaringan telekomunikasi yang sudah ada ini merupakan bagian darinya, jadi jaringan N-21 harus berevolusi dari jaringan pita sempit yang ada sekarang ini. Kita harus dapat memanfaatkan jaringan ini untuk menumbuhkan sikap masyarakat kita dalam ketergantuannya akan informasi. Sudah barang tentu penggunaan jaringan tersebut untuk penyaluran informasi suara tak perlu disebutkan lagi. Namun penggunaannya bagi informasi berbentuk non-suara harus dapat digalakkan secara nasional, dan ini harus didukung oleh political will yang kuat dari regulator. Contoh, pemerintah dapat menetapkan suatu aturan agar setiap pengguna telepon harus tersambung kepada jaringan internet. Atau keharusan digunakannya sisem unformasi manajemen pada setiap perusahaan , BUMN atau lembaga. Kenapa Program KB berhasil? Karena pemerintah kita benar-benar bermaksud untuk mensukseskannya, dan mendukung dalam arti seluas-luasnya. Disamping itu karena bangsa kita itu sangat paternalistik, sangat patuh kepada atasan, kepada panutan, kepada penguasa. Perubahan kearah masyarakat informasi merupakan perubahan budaya, harus dilaksanakan secara konsisten dengan pendekatan persuasif sekaligus peraturan. Pada setiap SD harus dapat diberikan fasilitas Internet. Bila perlu undang-undang internet bisa dibuat yang memungkinkan sebagian masyarakat dapat memanfaatkan jaringan informasi terbesar didunia ini. Pendidikan komputer harus dapat menembus semua rumah tangga, dengan kata lain gerakan ini semacam gerakan bebas buta huruf. Harus dibuat agar masyarakat maniac kepada teknologi informasi.

Yang kedua, perlunya dibuat trial N-21 yang mengikut sertakan kalangan industri, pendidikan dan penelitian. Yang dituju dalam upaya semacam ini ialah terbentuknya semacam jaringan contoh berikut jasa-jasa yang dapat diberikan kepada masyarakat pengguna informasi, sebelum nantinya dapat diterapkan untuk masyarakat yang lebih luas. Antara lain akan dipetik pengalaman untuk menentukan spesifikasi protokol jaringan yang tepat, dimensi maupun dari jaringan, maupun jenis-jenis aplikasi .

Ketiga, sektor-sektor swasta maupun BUMN menjadi pemain utama N-21 sehingga mereka harus mau terjun di dalam trial N-21, dengan membuat semacam konsorsium dan upaya ini harus mendapat dukungan dari pemerintah. Perusahaan-perusahaan itulah sebenarnya yang dapat menjadi pionir dalam memasyarakatkan penggunaan teknologi informasi serta jaringan internet. Konsorsium ini akan menjadi cikal bakal pengelola jaringan N-21.

Keempat, N-21 akan merupakan pasar raksasa bagi industri telekomunikasi dan karenanya merupakan kesempatan yang baik bagi industri dalam negeri untuk dapat memanfaatkannya.

Kelima , infrastruktur jaringan informasinya menuju kepada teknologi ATM tetapi dapat menampung evolusi teknologi IP. Untuk pencapaiannya perlu pentahapan pentahapan.

Keenam, mengingat geografi yang amat luas, penggunaan jaringan hybrid yang terdiri atas sistem terrestrial dan wireless serta satelit pada khususnya adalah merupakan keharusan. Jadi semuanya akan dapat dikerahkan untuk dapat menjawab kebutuhan jaringan N-21 dengan mutu yang baik dan harga dalam jangkauan pemakai secara proporsional.

Ketujuh, perhatian atas information content ditujukan pertama-tama kepada kedua sektor yang sangat membutuhkan komunikasi multi-media, yaitu sektor pendidikan jarak jauh dan kesehatan jarak jauh.

Masyarakat informasi Indonesia masih terasa abstrak, tetapi ia adalah visi. Pada hakekatnya, yang terjadi ialah perubahan budaya bangsa. Dan kita yang kebetulan berkaitan dengan proses ini seyogyanya merasa terpanggil untuk ikut mensukseskannya.

Dr. Arifin Nugroho, IPM bekerja di PT Telkom sebagai Kepala Proyek Satelit TELKOM-1.

Artikel lain:
Videoconferencing dan MPEG


[Sajian Utama][Sajian Khusus] [Profil Elektro]

[KOMPUTER] [KENDALI] [ENERGI] [ELEKTRONIKA] [INSTRUMENTASI] [PII NEWS]


Please send comments, suggestions, and criticisms about ELEKTRO INDONESIA.
Click here to send me email.

[ Edisi Sebelumnya]

© 1996-1997 ELEKTRO ONLINE and INDOSAT NET.
All Rights Reserved.