BERITA KEGIATAN
 

Workshop bersama BKE-PII, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL)

Peran Insinyur Elektro Indonesia dalam Mendorong Pemanfaatan Energi Bersih dan Telekomunikasi Pita Lebar Sesuai Harga Keekonomiannya

I. LATAR BELAKANG

Pertama-tama kami sampaikan bahwa berdasarkan hasil Konvensi Sarjana Teknik Elektro Badan Kejuruan Elektro Persatuan Insinyur Indonesia (BKE-PII) 2010 tanggal 25 Nopember 2010, telah terbentuk Pengurus baru BKE-PII Masa Bhakti 2011 - 2013.

Mengawali kegiatan Pengurus, sesuai Anggaran Dasar kami akan mengadakan:

  1. Pelantikan dan perkenalan Pengurus BKE-PII.
  2. Pelantikan Insinyur Profesional Elektro.

    Agar acara di atas lebih berbobot, sekaligus kami akan mengadakan juga:

  3. Workshop bersama BKE-PII, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL).

Ketiga organisasi ini sepakat untuk melaksanakan seluruh kegiatan di atas pada hari Kamis 16 Juni 2011. Adapun tema Workshop yang kami pilih adalah: "Peran Insinyur Elektro Indonesia dalam Mendorong Pemanfaatan Energi Bersih dan Telekomunikasi Pita Lebar Sesuai Harga Keekonomiannya".

Untuk penyelenggaraan acara ini telah dibentuk Panitia Bersama yang akan bersinergi dalam melaksanakan rangkaian kegiatan di atas.

II. TUJUAN

  1. Meningkatkan kepedulian para insinyur yang tergabung dalam Badan Kejuruan Elektro - Persatuan Insinyur Indonesia (BKE-PII), Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL), maupun yang berkarya di sektor ketenagalistrikan dan telematika, untuk membangun kebersamaan dan sinergitas mencapai industri ketenagalistrikan dan TIK di Indonesia yang efisien, transparan dan tangguh agar mampu menjadi motor penggerak dan pendorong kemajuan dan pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat dan kemakmuran bangsa Indonesia.
  2. Mempererat tali silaturrahmi antar anggota dan membangun saling pengertian di antara seluruh stakeholder yang terkait dengan kegiatan Badan Kejuruan Elektro - Persatuan Insinyur Indonesia (BKE-PII), Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL).


III. RANGKAIAN ACARA WORKSHOP


Untuk mendukung acara workshop dan mempererat tali silaturrahmi antar anggota, serta membangun saling pengertian dengan mitra BKE-PII, METI dan MASTEL, maka disusun rangkaian acara sebagai berikut:
1. WORKSHOP : BPPT, Auditorium & Ruang Komisi Utama
Kamis, 16 Juni 2011
Pukul 09.00 - 13.00
2. GOLF : Riverside Golf Club, Cimanggis
Minggu, 19 Juni 2011
Pukul 06.30 - 12.00
3. FUN BIKE : Start Gedung ENERGI (MEDCO) - Finish Gedung
INDOSAT (Tentative)
''
1. Workshop

Workshop dengan tema "Peran Insinyur Elektro Indonesia dalam Mendorong Pemanfaatan Energi Bersih dan Telekomunikasi Pita Lebar Sesuai Harga Keekonomiannya" dimaksudkan untuk mendukung pengembangan industri ketenagalistrikan dan telekomunikasi yang efisien, transparan dan tangguh sehingga mampu menjadi motor penggerak dan pendorong kemajuan dan pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat dan kemakmuran bangsa Indonesia.

Workshop dibagi dalam dua sesi paralel:
  • Sesi A membahas bidang Ketenagalistrikan dengan sub tema "PEMANFAATAN ENERGI BERSIH SESUAI HARGA KEEKONOMIANNYA UNTUK MENCAPAI VISI 25/25" dan
  • Sesi B membahas bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi dengan sub tema "HARGA KEEKONOMIAN TELEKOMUNIKASI PITA LEBAR".

Diharapkan Workshop akan dihadiri oleh lebih kurang 200 pelaku usaha dan profesional dari berbagai bidang. Narasumber Workshop terpilih diantara para pakar, pengambil keputusan & pelaku bisnis baik sektor industri, jasa dan.

  • 1.1. Sesi A : Pemanfaatan Energi Bersih Sesuai Harga Keekonomiannya Untuk Mencapai Visi 25/25

    Salah satu arah kebijakan energi nasional secara garis besar dinyatakan dalam upaya peningkatan pemanfaatan energi terbarukan menjadi 25% pada tahun 2025 atau dikenal sebagai Visi Energi 25/25.

    Visi Energi 25/25 menekankan kepada 2 (dua) hal penting yaitu upaya konservasi energi di sisi pemanfaatan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan energi nasional, dan upaya diversifikasi energi di sisi penyediaan dengan mengutamakan energi baru terbarukan.

    Visi baru ini mengusung perubahan paradigma yang semula menyiapkan energi fosil berdasarkan supply (penyediaan) dengan biaya berapapun (bahkan disubsidi) menjadi pengelolaan energi dari segi permintaan yang berarti mengefisiensikan kebutuhan dan penggunaan energi, memaksimalkan penyediaan dan pemanfaatan energi terbarukan paling tidak dengan harga pada avoided fossil energi cost (menghindari pembiayaan yang berasal dari sumber fosil) dan bila perlu disubsidi. Sedangkan energi fosil dipakai sebagai faktor penyeimbang setelah penggunaan energi baru terbarukan dimaksimalkan, sehingga sumber energi fosil yang tidak termanfaatkan tersebut dapat digunakan dikemudian hari atau untuk diekspor.

    Indonesia masih memiliki ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM) yang sangat tinggi. Saat ini pangsa energi terbarukan hanya sekitar 4% dari total sumber daya energi yang dimanfaatkan. Padahal dalam skala global terjadi peningkatan kapasitas yang signifikan yang menggambarkan keberanian banyak Negara mengambil peran dalam menguasai teknologi energi terbarukan. Keberanian tersebut beralasan mengingat trend harga minyak yang terus naik. Sehingga jelas mengindikasikan energi baru terbarukan akan memainkan peran penting dalam waktu yang tidak lama lagi.

    Untuk mendorong pembelian tenaga listrik dari pembangkit tenaga listrik yang menggunakan energi terbarukan, pemerintah telah mengeluarkan Permen ESDM, No: 31 Tahun 2009 tentang harga pembelian tenaga listrik oleh PT PLN (Persero) dari pembangkit tenaga listrik yang menggunakan energi terbarukan skala kecil dan menengah (<10 MW) atau kelebihan tenaga listrik. Pemerintah juga telah mengeluarkan Permen ESDM No 32 Tahun 2009 tentang harga patokan pembelian tenaga listrik oleh PT PLN (Persero) dari pembangkit listrik tenaga panas bumi.

    Permen ESDM no 31 tahun 2009 di atas menetapkan harga Rp 656/ kWh x F untuk tegangan menengah, dan Rp 1.004/kWh x F untuk tegangan rendah (Faktor F ditetapkan berbeda antar lokasi yakni terendah sebesar 1 di Jawa dan Bali, serta tertinggi sebesar 1,5 di Maluku dan Papua).

    Harga di atas cukup menarik untuk pengusaha yang bergerak di pembangkit listrik tenaga minihidro/mikrohidro (PLTM/H), namun masih "kurang" untuk biomasa/sampah, biogas, angin dan surya. Pada dasarnya harga listrik dari sumber energi terbarukan tidak bisa di "generalized" . Energi terbarukan sangat technology specific dan terpengaruh skala.

    Saat ini Permen ESDM No 31 tahun 2009 tersebut belum dapat mengakomodasi harga listrik yang berbasis biomassa/sampah, biogas angin dan surya, padahal potensinya besar dan berdampak positif bagi lingkungan dalam hal pengurangan gas rumah kaca dampak pemanasan global.

    Pemerintah perlu memberikan perhatian nyata dalam investasi energi biomasa/sampah, biogas, angin dan surya sehingga tidak hanya sebagai pengguna ketika sumber energi tersebut memainkan peranannya. Berbagai rangsangan dan kemudahan perlu dibuka agar sektor swasta tertarik masuk ke sektor ini. Dengan harga listrik yang ditetapkan dalam Permen ESDM No 31 Tahun 2009, memang banyak dari sumber energi tersebut belum menemui harga keekonomiannya. Saat ini merupakan saat yang tepat untuk memulai agar Indonesia tidak terlambat dan untuk itu perlu memulai dengan membuat penetapan harga listrik yang wajar untuk pembelian tenaga listrik dari pembangkit tenaga listrik yang menggunakan energi biomasa/sampah, biogas, surya dan angin.

    Peranan Energi Terbarukan dalam pembangkitan listrik semakin diperlukan mengingat potensinya tidak saja dalam suplai energi tetapi juga dalam menumbuhkan perekonomian, kapasitas teknologi, serta perlindungan lingkungan hidup dari akibat GHG. Informasi tentang potensi energi terbarukan sudah cukup banyak dibahas, serta dikaji namun pemanfaatannya masih sangat terbatas, sehingga manfaat yang lebih lusa dari energi terbarukan belum dapat dirasakan oleh masyarkat luas.

    Penumbuhan industri energi terbarukan, khususnya untuk kelistrikan, utamanya diharapkan memberikan manfaat pada ketersediaan energi tidak saja untuk daerah di mana mengalami keterbatasan sumber energi fosil, tetapi juga untuk membantu pada system kelistrikan konvensional dalam pengurangan penggunaan fossil fuel. Tumbuhnya industri energi ini secara ekonomi juga memiliki arti penting, karena bila tumbuh dengan skal pasar yang besar maka akan membuka peluang usaha baik dari sisi hulu yang berupa industri manufaktur, hingga hilir berupa pelayanan jasa teknis. Hal ini tidak saja akan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja baru.

    Pasar industri energi terbarukan masih sulit untuk tumbuh secara alamiah, mengingat karakteristik energi terbarukan yang berfluktuasi, serta status teknologi yang masih berbiaya tinggi. Olehkarena itu perlu terobosan intervensi Kebijakan Pemerintah untuk menumbuhkan pasar tersebut. Pada umumnya, kendala pengembangan industri energi terbarukan terletak pada nilai keekonomisan yang masih tinggi bila disbanding harga energi konvensiaonal, terutama untuk kasus di Indonesia. Perlu pemikiran agar ET dapat berperan sesuai kapasitas dan keekonomiannya, yang pada akhirnya akan meningkatkan utilisasi industri ini dan selanjutnya meningkatkan daya saing industri ini sejalan dengan tercapainya economic of scale-nya .

    Workshop ini ditujukan untuk membahas Feed-in Tariff, sebagai salah satu alternative insturmen kebijakan yang dapat dilakukan dalam menumbuhkan pasar industri ET ini. Kebijakan ini telah terbukti berhasil mendorong tumbuhnya pasar ET tidak saja di berbagai nergara maju seperti Jerman, Spanyol, dan Belanda, namun juga di Negara ketiga seperti Thailand, Malaysia, dan Philipina. Namun demikian, tidak serta merta kebijakan tersebut dapat diterapkan di Indonesia, oleh karenany diperlukan pembahasan tentang apa FiT itu secara teknis, bagaimana menyusun kebijakan tersebut, bagaimana menerapkannya, serta konsekuensi apa saja yang timbul dengan mengintroduksi kebijakan ini di Indonesia. Dari Workshop ini diharapkan dihasilkan butir-butir pikiran tentang penyusunan dan penerapan FiT bagi industri Et di Indonesia yang kemudian direkomendasikan kepada instansi Pemerintah yang berkompeten.

  • 1.2. Sesi B : Harga Keekonomian Telekomunikasi Pita Lebar

    Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di Indonesia telah meningkat dengan cepat, baik dalam peningkatan jumlah jenis layanan, maupun infrastruktur dan perangkat end user. Layanan yang sebelumnya berupa konten analog bertransisi menjadi digital bahkan menuju ke digital interactive, dan infrastruktur telekomunikasi yang tadinya hanya berupa fixed cable dan hanya untuk telekomunikasi kemudian menjadi lebih beragam yang digunakan juga untuk data dan mendukung akses mobile wireless. Bagi end user, perangkat akses yang digunakan semakin praktis penggunaannya dan semakin ekonomis harga perangkatnya seperti komputer, smartphone dan lain-lainnya. Hal itu terjadi karena Teknologi Informasi dan Komunikasi telah mengalami konvergensi sehingga juga berpengaruh terhadap perubahan paradigma di masyarakat tentang gaya hidup. Gaya hidup baru yang terbentuk dari adaptasi terhadap tren perkembangan TIK seperti ini menggiring ke arah terbentuknya masyarakat baru yang dinamakan sebagai masyarakat informasi Indonesia yang menyongsong datangnya era informasi, sehingga diharapkan akan dapat mengurangi kesenjangan digital (digital divide) secara signifikan sebelum 2015. Dalam era informasi, seiring dengan arah konvergensi TIK yang mengerucutkan berbagai teknologi akses ke dalam satu platform yaitu berbasis IP, maka kebutuhan transmisi data pita lebar (broadband) menjadi kebutuhan fundamental. Hal ini pun dapat dilihat dengan berkembangnya suatu terminologi baru yaitu ekonomi pita lebar (broadband economy).

    Semua hal tersebut saat ini bertumpu pada aspek regulasi dan teknologi, maupun keekonomiaan dari broadband telekomunikasi. Pada aspek regulasi, pemerintah tampak belum tegas keberpihakannya antara kepentingan masyarakat atau investor. Hal tersebut diantaranya terlihat dari sikap pemerintah yang masih lunak terhadap RIM (Blackberry), kurang tegasnya menghadapi masuknya berbagai produk elektronik China, masih belum jelasnya perijinan siaran TV digital, belum adanya regulasi pengelolaan ijin dan konten untuk IP-TV, dan penetrasi infrastruktur PALAPA RING yang masih tertunda. Sedangkan pada aspek teknologi, masyarakat sudah mampu menembus dunia global dengan berbagai aplikasi produk anak bangsa di bidang creative digital, sehingga berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional dan regional serta kemandirian bangsa akan teknologi digital. Walaupun demikian, upaya untuk mengangkat peran industri dalam negeri agar lebih dapat ambil bagian dalam pembangunan sarana dan infrastruktur telekomunikasi (dan internet) masih perlu terus-menerus dilakukan. Selain itu juga perlu dilakukan upaya yang memerlukan pemikiran dan strategi yang komprehensif untuk menyatukan kebijakan, regulasi, strategi pembangunan, peningkatan kompetensi teknologi, peningkatan daya saing industri dalam negeri, dan peningkatan kesejahteraan rakyat baik melalui keterlibatannya dalam ekonomi broadband maupun dari harga keekonomian telekomunikasi yang berpihak pada pengguna.

    Bila upaya untuk menyatukan berbagai hal ini maupun untuk menangani perbaikan harga keekenomian broadband telekomunikasi tidak dilakukan dengan serius, khususnya yang berperan penting seperti regulasi dan kebijakan penyelenggaraan layanan broadband serta pelaksanaan program yang mendorong tumbuhnya inovasi creative digital, maka kemandirian bangsa akan teknologi sulit tercapai dan daya saing industri nasional pun akan menurun. Dalam kesempatan ini, melalui pelaksanaan workshop yang mempertemukan berbagai komponen bangsa antara lain, akademis, litbang, industri dan pemerintah, kita dapat memanfaatkannya sebagai sebuah kesempatan untuk melakukan sikronisasi dan kesinambungan arah regulasi dan kebijakan dalam keekonomian broadband telekomunikasi, yang memiliki arti penting dalam menentukan arah ke depan kemajuan bangsa dan negara Indonesia.

2. Turnamen Golf dan Fun Bike BKE-PII, METI & MASTEL 2011

Acara ini bertujuan mempererat silaturrahmi antar anggota, serta membangun saling pengertian dengan para mitra Badan Kejuruan Elektro - Persatuan Insinyur Indonesia (BKE-PII), Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL).

IV. PESERTA

  1. Pemerintah (Kementerian ESDM, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kominfo, Kementerian Perindustrian, Bappenas, Kementerian Ristek, Kementerian BUMN, Kementerian Dalam Negeri dll) dan pemerintah daerah.
  2. Pelaku dunia usaha kelistrikan & telematika baik yang bergerak pada industri produk maupun jasa.
  3. Investor dan perbankan pada sektor Kelistrikan & telematika.
  4. Lembaga Penelitian (BPPT, LIPI, LEN, Perguruan tinggi, dll).
  5. Anggota Persatuan Insiyur Indonesia (PII).
  6. Anggota Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI)
  7. Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL).
  8. Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI).

V. SUSUNAN ACARA
08.00-09.00 : Registrasi Peserta
09.00-09.10 : Laporan Kegiatan Ketua Panitia
09.10-09.20 : Sambutan Ketua BKE-PII
09.20-09.35 : Pembicara Utama I : Bapak Ir. Jarman, M.Sc-Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM
" Bersih"
Kebijakan Pemerintah tentang Harga Keekonomian Untuk Energi
09.35-09.50 : Pembicara Utama II : Bapak Dr. Muhammad Budi Setiawan, M.Eng-Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika-Kementerian Komunikasi dan Informatika "Kebijakan Pemerintah tentang Broadband Wireless Access"
09.50-10.30 : Rehat Kopi
PELANTIKAN PENGURUS BKE-PII & INSINYUR PROFESIONAL ELEKTRO
10.30-10.50 Pelantikan Pengurus BKE-PII Masa Bhakti 2011-2013
10.50-11.00 Pelantikan Insinyur Profesional Elektro
WORKSHOP SESI A : BIDANG KETENAGALISTRIKAN
Sub Tema : "PEMANFAATAN ENERGI BERSIH SESUAI HARGA KEEKONOMIANNYA UNTUK MENCAPAI VISI 25/25"
11.00-11.30 Pembicara: Bapak Ir. Agoes Triboesono, M.Eng-Sekretaris Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM
Topik : Regionalisasi Tarif Listrik
11.30-12.30 Pembicara I : Ibu Maritje Hutapea (Direktur Bio Energi-Ditjen EBTKE)
Topik : Harga Keekonomian dari Pembangkit Listrik Untuk Biomass & Biogas
Moderator : Ir. Andhika Prastawa, M.Sc-Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi BPPT
Panelis : Bapak Oktaufik (METI), Direktorat Teknologi & Perencanaan Sistem-PT PLN, Bapak Dicky Edwin Indarto (DNPI KLH), Bapak Prof. Dr. Tatang Hernas (IKABI-Ikatan Ahli Bio Energi), Bapak Erik Tjia (PT. Multimas Nabati Asahan), Bapak Dr. Ir. Herman Darnel Ibrahim (BKE-PII)
12.30-13.30 Ishoma
13.30-15.00 Pembicara II : Bapak Dr. -Ing Hasrul LA (Direktur Aneka Energi, Direktorat Jenderal EBTKE)
Topik : Harga Keekonomian dari Pembangkit Listrik Untuk Tenaga Surya ( PV ) & Tenaga Bayu (angin)
Panelis : Bapak Jon Respati (METI), Ibu Ir. Satya Zulfanitra, M. Sc (Direktur Teknik dan Lingkungan DJK), Bapak Suripno (MEAI), Ibu Nany Wardhani (PT SEI), Direktorat Teknologi & Perencanaan Sistem-PT PLN, Bapak Prof. Dr. Rinaldi Dalimi (UI), Bapak Poempida Hidayatullah (PT Environ Energi)
15.00-16.00 Rangkuman dan Rekomendasi Workshop tentang Harga Keekonomian Energi Terbarukan
16.00-16.10 Penutup : Ketua METI
WORKSHOP SESI B : BIDANG TEKNOLOGI INFORMASI & KOMUNIKASI Sub Tema : "HARGA KEEKONOMIAN TELEKOMUNIKASI PITA LEBAR"
Moderator : Ir. Eddy Satria, M. Sc
11.00-12.30 Pembicara I : Bapak Indra Utoyo : Chief Information Technology PT Telkom
Topik : Menumbuhkan Industri Kreatif & Industri ICT Nasional Panelis : Bapak Dr. Ir. Mas Wigrantoro, M.Sc (MASTEL), Bapak Ir. C Triharso (Direktur Elektronika & Telematika Kementerian Perindustrian), Bapak Ir. Zainal A. Hasibuan, MLS, P.Hd (DeTIKnas), Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia (MIKTI), Bapak Dr. Ir. Hammam Riza, IPM (BPPT), IMOCA (Indonesian Mobile Content Association)
12.30-13.30 Ishoma
13.30-15.00 Pembicara II : Bapak Syukri Batubara : Dirjen Penyelenggaraan Jasa Telekomunikasi-Kementerian Komunikasi dan Informatika
Topik : Insfrastruktur TIK di Daerah untuk Mendukung UKM dan e-KTP
Panelis : Bapak Ir. Agus Muharram, MSP (Deputi V Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia-Kementerian Koperasi & UKM), Ibu Ir. Betti Alisyahbana (MASTEL), Bapak Prof. Dr. Suhono Harso Supangkat (ITB), Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), PT Telkomsel, Dirjen Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Negeri, Bapak Tedi Sukardi -Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FITI)
15.00-16.00 Rangkuman dan Rekomendasi Workshop tentang Broadband Ekonomi
16.00-16.10 Penutup : Ketua MASTEL


VI. TURNAMEN GOLF


Turnamen Golf BKE-PII 2011
TUJUAN
  • Untuk mendukung terlaksananya Program Kerja Pengurus Badan Kejuruan Elektro - Persatuan Insinyur Indonesia (BKE-PII), Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL). Mempererat silaturrahmi antar anggota, serta membangun saling pengertian dengan mitra Badan Kejuruan Elektro - Persatuan Insinyur Indonesia (BKE-PII), Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL).
TEMPAT & WAKTU Riverside Golf Club, Cimanggis
Minggu, 19 Juni 2011
Pukul 06.30 - selesai
HONORARY PLAYERS AND GUESTS
Dedy S Priatna
Marzan A. Iskandar
Rinaldi Firmansyah
Boby Gafur Umar
Fahmi Mochtar
Arief Yahya
HADIAH HOLE IN ONE
Pajero Sport
Nissan X-Trail
INVESTASI PESERTA
Rp. 1.500. 000/ orang

VII. FUN BIKE
TEMPAT & WAKTU Start Gedung ENERGI (MEDCO) - Finish Gedung INDOSAT (Tentative)
Minggu, 26 Juni 2011
Pukul 06.30 - selesai
VIII. SUSUNAN PANITIA
Tim Pengarah
Ketua :Dr. Ir. Luluk Sumiarso
Wakil Ketua :Dr. Ir. Marzan A. Iskandar, IPU
Sekretaris:Dr. Ir. Hary Budiarto, IPM
Anggota:
  • Dr. Ir. Ashwin Sasongko S, M.Sc
  • Ir. Fahmi Mochtar, MM, IPM
  • Prof. Adang Suwandi Achmad
  • Ir. Arief Yahya, M.Sc, IPU
  • Ir. Ali Herman Ibrahim, MM
  • Ir. Nur Pamudji, M. Eng
  • Ir. Haryanto WS, MM, IPU
  • Ir. Fadzri Sentosa
  • Dr. Ir. Herry Winarno
Panitia Pelaksana
Ketua:Ir. Djuniarman A Djulkifli, IPU
Sekretaris : Dr. M. Mustafa Sarinanto, IPM
Wakil Sekretaris: Ir. Ngadiyanto
Bendahara: Ir. Piet Supardi Suryadi, IPU
Pendanaan & Sponsorship: Ir. Tumpal Gultom, MT, IPU
Anggota :
  • Ir. Nurudin, IPU
  • Ir. Suharto Praptono, IPU
  • Ir. Nasser Iskandar, IPM
  • Ir. Akhmad Riyanto, IPU
Penyelenggaraan Workshop:
Penanggung jawab : Dr. Ir. Hamman Riza, IPM
Venue coordinator : Dr. Ir. Hary Budiarto, IPM
Bidang Ketenagalistrikan
Koordinator : Ir. Djoko Winarno, MM, IPU
Anggota:
  • Ir. Bob Saril, M.Sc, IPM (Moderator)
  • Ir. Riza M, M.Eng
  • Dr. Ir. Pekik Argo Dahono, IPU
  • Ir. Achmad Zaenal Abidin, IPU
  • Dr. Ferdi Armansyah, IPM
  • Ir. Faiz Shahab, PMP
Bidang TIK
Koordinator : Dr. Ir. Mas Wigrantoro, M.Sc
Anggota :
  • Dr. Dwi Handoko, IPM
  • Ir. Wahyuddin Bagenda, IPU
  • Ir. Eddy Satriya, MA
  • Eko Fajar Nurprasetyo, Phd
  • Ir. Ruslan Rustam, IPU
  • Ir. Deny Rudiana, MM, IPM
  • Ir. Syarief Mahdi
Penyelenggaraan Tournament Golf & Fun Bike
Penanggung jawab : Ir. Abdus Somad Arief
Koordinator : Ir. Mukhsin Moechtar, IPM
Ir. Yusron Hariyadi

Posted by anto    01-05-2011  13:05:25