ELEKTRO INDONESIA            Edisi ke Sebelas, Januari 1998 
ENERGI 

Diversifikasi Energi sebagai Usaha Penyelamatan Lingkungan

Pemakaian bahan bakar fosil (minyak dan batubara) secara besar-besaran sebagai penyedia sumber daya energi telah terbukti ikut menambah beratnya pencemaran lingkungan. Sedangkan Indonesia yang akan memasuki era industrialisasi jelas akan memerlukan tambahan energi dalam jumlah yang relatif besar dan hal ini sudah barang tentu akan berdampak pula terhadap lingkungan. Diversifikasi energi merupakan salah satu jawaban untuk mencukupi kebutuhan energi yang terus meningkat, akan tetapi masalah penyelamatan lingkungan juga harus diperhatikan. Tulisan ini akan menguraikan secara garis besar masalah diversifikasi energi dan juga usaha penyelamatan lingkungan berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan energi.

Pendahuluan

Pembangunan Jangka Panjang I yang lalu telah berhasil meletakkan dasar-dasar untuk menuju pembangunan berkelanjutan dalam lingkungan dalam bidang industri yang akan dilaksanakan pada PJP II. Untuk itu harus dipikirkan kebutuhan energi yang diperlukan untuk menunjang kegiatan industri tersebut (1). Kebutuhan energi yang diperlukan untuk menggerakkan industri, antara lain dengan melalui pembakaran bahan bakar fosil. Akan tetapi pemakaian bahan bakar fosil (minyak dan batubara) sejauh ini telah terbukti merupakan salah satu penyebab pencemaran lingkungan. Oleh sebab itu harus dicarikan penyelesaiannya agar lingkungan tetap terjaga kelestariannya dan ini berarti pula sebagai usaha untuk menjaga agar lingkungan tetap dapat memberikan daya dukungnya bagi kelangsungan pembangunan di Indonesia.

Dalam tulisan ini akan diuraikan seberapa jauh kebutuhan energi Indonesia yang tampaknya terus meningkat seiring dengan laju pembangungan. Selain dari itu akan disimak pula seberapa banyak cadangan sumber daya alam Indonesia dalam rangka memenuhi kebutuhan energi termasuk jenis diversifikasi energi yang telah dilakukansebagai upaya penyelamatan lingkungan dari dampak pencemaran lingkungan akibat pemakaian bahan bakar fosil. (2.3)

Dasar Teori

Produksi dan cadangan bahan bakar

Telah dikatakan bahwa pemakaian bahan bakar fosil merupakan salah satu jawaban untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat untuk dapat menggerakkan kegiatan industri yang telah diletakkan dasar-dasarnya pada PJP I yang lalu. Data yang diperoleh dari Departemen Pertambangan dan Energi tentang produski bahan bakar yang menunjukkan kenaikan dari tahun ke tahun seperti tampak pada Tabel 1.
 
Tabel 1 
Produksi bahan bakar Indonesia antara tahun 1973 s/d 1991.
No
Produksi
1973/1974 1983/1984 1990/1991



4
Minyak bumi (juta barel0 
Gas bumi (ribu mef) 
Batubara (ribu ton) 
LNG (juta MMBTU)
508,4
186,1
145,8
226,2
517,6
1.228,2
614,7
569,3
553,0
2.206,9
11.211,6
1.142,0

Bila dilihat dari Tabel 1 tampak bahwa produksi minyak bumi selama hampir 20 tahun sejak tahun 1973 tidak banyak mengalami kenaikan dibandingkan dengan produksi bahan bakar lainnya. Keadaan ini disebabkan karena belum ditemukan sumber cadangan minyak baru dan ini sekaligus menunjukkan bahwa pada suatu saat cadangan minyak akan habis. Tambang minyak di darat saat ini relatif sudah habis dan penambangan minyak kini sudah mengarah ke lepas pantai. Sedangkan cadangan bahan bakar Indonesia relatif sangat sedikit bila dibandingkan cadangan bahan bakar dunia. Tabel 2 akan menunjukkan jumlah cadangan tersebut. (2,4)
 

Tabel 2 
Cadangan bahan bakar Indonesia dan Dunia
1. 
 
Minyak bumi 
 
Timur Tengah 
70 %
Indonesia 
1,1 %
2. 
 
Gas bumi 
 
Rusia 
25 %
Indonesia 
1,5 %
3. 
 
Batubara 
 
Amerika Utara 
25 %
Indonesia 
3,1 %

Mengingat jumlah cadangan bahan bakar Indonesia sangat terbatas dan bila terus dilakukan penambangan untuk mencukupi kebutuhan energi yang terus meningkat, maka pada suatu saat pasti akan habis. Oleh karena itu sudah saatnya untuk mulai memikirkan masalah diversifikasi energi agar cadangan bahan bakar tidak cepat habis. Pemikiran masalah diversifikasi energi ini juga dimaksudkan sebagai upaya penyelamatan lingkungan dari dampak pencemaran lingkungan akibat pemakaian bahan bakar fosil.

Pencemaran akibat pemakaian bahan bakar fosil

Sebagian besar produksi bahan bakar seperti tersebut pada Tabel 1 digunakan untuk mendukung kegiatan industri dan transportasi. namun akibat dari penggunaan bahan bakar tersebut untuk kegiatan industri dan transportasi adalah meningkatnya pencemaran udara dan hal ini sudah barang tentu akan berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia. (3)

Udara di daerah perkotaan yang mempunyai banyak kegiatan industri dan berlalulintas padat pada umumnya sudah tidak bersih lagi. Udara tersebut telah tercemari oleh berbagai macam pencemar dan yang paling banyak berpengaruh dalam pencemaran udara adalah komponen-komponen berikut ini : (5,6)

1. Karbon monoksida     (CO)
2. Nitrogen Oksida         (NOx)
3. Belerang Oksida         (SOx)
4. Hidro Karbon             (HC)
5. Partikel                       (Particulate)

Komponen pencemar udara tersebut di atas dapat mencemari udara secara sendiri-sendiri atau dapat pula mencemari udara secara bersama-sama. Komposisi komponen pencemar udara tergantung pada sumbernya. Untuk mendapatkan gambaran komposisi komponen pencemar udara berikut asal sumbernya, dapat dilihat pada Tabel 3 yang diambil dari daerah industri di Amerika, sedangkan data untuk Indonesia masih terus diteliti. (6)
 

Tabel 3 
Jumlah komponen pencemar dan sumber pencemaran.
Sumber Pencemaran Jumlah komponen pencemar, juta ton / tahun
CO NOx SOx HC Partikel Total
Transportasi 
Industri 
Pembuangan Sampah 
Pembakaran Stasioner 
Lain-lain
63,8
9,7
7,8
1,9
16,9
8,1
0,2
0,6
10,0
1,7
0,8
7,3
0,1
24,4
0,6
16,6
4,6
1,6
0,7
8,5
1,2
7,5
1,1
8,9
9,6
90,5
29,3
11,2
45,9
37,3

Dari Tabel 3 tersebut tampak bahwa sumber pencemaran terbesar berasal dari transportasi, kemudian disusul oleh pembakaran stationer yaitu pembakaran bahan bakar fosil pada mesin-mesin pembangkit tenaga listrik (diesel). Seperti telah dikatakan di muka bahwa data komponen pencemar dan sumber pencemaran untuk Indonesia sampai saat ini masih dalam penelitian, namun khusus untuk bidang transportasi dapat diperkirakan prosentasi komponen pencemar seperti tersebut dalam Tabel 4.
 

Tabel 4
Komponen Pencemar Prosentase
CO 
NOx 
SOx 
HC 
Partikel
70,50 %
8,89 %
0,88 %
18,34 %
1,33 %
Total
100,00%
Perkiraan prosentasi komponen pencemar udara dari sumber pencemar transportasi di Indonesia (6)

Sebagai tambahan dapat dikemukan bahwa pemakaian bahan bakar fosil (misalnya batubara) untuk pembangkit tenaga listrik (PLTU berdaya 1000 MW) akan menghasilkan bahan pencemar sebagai berikut : (7,9)

CO2 sebanyak 6,5 juta ton
SOx sebanyak 44.000 ton
Nox sebanyak 22.000 ton
Abu logam berat (Hg, Cd, Pb, As dan Va) sebanyak 320.000 ton.
 
Pencemaran udara seringkali tidak dapat ditangkap oleh panca indera manusia. Walaupun tidak dapat ditangkap oleh panca indera, namun potensi bahayanya tetap saja ada! Kalau panca indera manusia sudah dapat menangkap merasakan adanya pencemaran udara, maka pencemaran udara tersebut pastilah sudah sangat parah atau sangat "mengerikan". Misalnya indera mata dapat melihat bentuk pencemaran, misalnya asap tebal hasil pembakaran (baik dari industri, mesin, maupun bentuk pembakaran lainnya), berarti komponen partikel-partikel di dalam asap tebal tersebut sudah sangat banyak. Seandainya indera penciuman dapat mencium bau pencemaran udara atau bahkan merasakan sesak pada dada akibat mencium gas tersebut, maka tingkat pencemaran sudah sangat berbahaya dan mungkin saja sudah menjadi racun yang dapat mematikan bila terjadi kontak dalam waktu cukup lama. Kalau indera perasa (tangan) dapat merasakan pencemaran udara, misalnya adanya butir-butir minyak atau partikel yang lain, berarti komponen pencemar udara banyak mengandung HC dan partikel.

Seringkali bentuk pencemaran udara yang tidak tertangkap oleh panca indera, justru lebih berbahaya dan bersifat racun! Sebagai contoh pencemaran gas CO adalah pencemaran yang tidak tampak oleh mata klarena tidak berwarna dan juga tidak berbau, akan tetapi sifat racunnya sangat tinggi karena dapat mengganggu kesehatan sampai kepada kematian karena mencium gas CO tersebut. Begitu juga bentuk pencemar gas NO, tidak berwarna dan tidak berbau tapi sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, bagi hewan bahkan juga tanaman.

Diversifikasi Energi

Berdasar penjelasan Dasar Teori di atas, maka penggunaan bahan bakar fosil hendaknya mulai dibatasi karena cadangannya yang sangat terbatas. di samping itu, akibat pemakaian bahan bakar fosil juga sangat mencemari lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan manusia. Oleh karena itu usaha diversifikasi energi sudah harus segera dilaksanakan, agar cadangan sumber daya energi (bahan bakar) dapat diperpanjang dan sekaligus sebagai upaya mencegah adanya dampak pencemaran lingkungan atau sebagai upaya penyelamatan lingkungan.
 
Usaha diversifikasi energi ditempuh antara lain dengan menginventarisasi jenis energi yang dapat diperoleh selain dari pemanfaatan bahan bakar fosil. Diversifikasi energi terdiri dari pemanfaatan 2 macam kelompok energi, yaitu : (2,4,5)

Energi terbarukan

Adalah energi yang berasal dari energi non fosil yang diperoleh dari alam yang setelah digunakan awal akan dapat digunakan kembali, meliputi :

Energi maju

Adalah energi yang diperoleh dari pemanfaatan teknologi nuklir melalui Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Energi nuklir (PLTN) mempunyai potensi yang cukup baik untuk dikembangkan di Indonesia, walaupun merupakan energi alternatif urutan terakhir. Pada dasarnya pemanfaatan energi nuklir dapat melalui dua cara, yaitu : (8) Reaksi fisi pada saat ini teknologinya sudah dikuasai dengan baik, sehingga semua PLTN di dunia menggunakan reaksi fisi. Sedangkan untuk reaksi fusi pada saat ini masih dalam penelitian, namun bila berhasil maka energi yang dihasilkan jauh lebih besar dari pada energi melalui reaksi fisi. Berdasarkan perhitungan termodinamika, energi reaksi fisi dapat disetarakan dengan hasil pembakaran energi fosil sebagai berikut : (8)
1 gram Uranium = 2,5 ton batubara = 17.500 liter minyak.

Mengingat akan besarnya panas yang dihasilkan oleh energi nuklir, maka pemanfaatannya untuk sumber pembangkit tenaga listrik sangat menguntungkan, sehingga pembangunan PLTN pada saat ini berkembang pesat. Keadaan ini juga didukung oleh teknologi nuklir keselamatan reaktor nuklir yang telah dikuasai dengan baik dan terus dikembangkan ke arah yang jauh lebih baik lagi, sehingga aspek keselamatan terhadap manusia dan lingkungan selalu dinomor-satukan.

Walapun pernah terjadi kecelakaan PLTN Chernobyl, ternyata minat dunia untuk membangun dan memanfaatkan PLTN makin bertambah, karena memang sangat menguntungkan, sebagai gambaran tentang jumlah PLTN dunia saat ini adalah sbb: (9)

Jumlah PLTN sampai dengan tahun 1985     = 395 buah
Jumlah PLTN sampai dengan tahun 1995     = 437 buah
Jumlah PLTN yang sedang dibangun saat ini = 50 buah
Jumlah PLTN dalam perencanaan                = 57 buah

Sampai dengan awal abad 21 yang akan datang jumlah PLTN akan bertambah kurang lebih sebanyak 100 buah. Data-data ini belum termasuk rencana Indonesia untuk ikut memanfaatkan PLTN sebagai penyedia sumber energi listrik.

Pembahasan

Usaha diversifikasi energi seperti telah diuraikan sebelumnya ternyata sangat menguntungkan ditinjau dari segi keselamatan lingkungan. Hal ini disebabkan karena :

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan seperti tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :
  1. Usaha diversifikasi energi sudah saatnya untuk dilakukan sebelum cadangan bahan bakar fosil habis terkuras.
  2. Diversifikasi energi terbukti tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan, sehingga sangat baik untuk proses penyelamatan lingkungan.
  3. Diversifikasi energi yang belum dimanfaatkan secara optimal hendaknya dapat segera ditingkatkan agar dicapai secara optimal, sehingga bisa menggantikan pemakaian bahan bakar fosil.
Daftar Acuan
  1. Abdul Kadir, Prof.Ir. : "Energi", Penerbit UI, Jakarta, 1990.
  2. Endro Utomo Notodisuryo, Ir.: "Visi Energi Dalam PJP II", Departemen Pertambangan dan Energi, Jakarta, 1997.
  3. Jonathan Turk. et al : "Environmental Science" Sunders College Publishing, Philadelphia, 1978.
  4. Mohammad Ridwan, Dr.: "Peta Sumber Daya Energi Indonesia dan PLTN sebagai Alternatif Penyedia Energi", Kantor Men. Ris. Tek., Jakarta, 1996.
  5. Sulasno, Ir.: "Pusat Pembangkit Tenaga Listrik", Penerbit Satya Wacana, Semarang, 1992.
  6. Wisnu Arya Wardhana :"Dampak Pencemaran Lingkungan", ISBN 979-533-251-1, Andi Offset, Yogyakarta, 1995.
  7. Wisu Arya Wardhana :"Pebakaran Batubara sebagai Sumber Pencemaran Lingkungan", Seminar Nasional V, Kimia Dalam Industri dan Lingkungan, APH, Yogyakarta, 1996.
  8. Wisnu Arya Wardhana : "Radioekologi", ISBN 979-533-318-6, Andi Offset, Yogyakarta, 1996.
  9. Wisnu Arya Wardhana : "Teknologi Nuklir Antisipasi Krisis Energi di Indonesia", Seminar Prospek dan Aspek Nuklir di Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya, 1997.
Oleh :
Wisnu Arya Wardhana, Supriyono, Zaenal Abidin, Sigit Purnomo adalah Staf Pengajar pada Pendidikan Ahli Teknik Nuklir - BATAN - Yogyakarta.

Artikel lain
Model MARKAL : Strategi Penyediaan Energi Nasional di Era 2000-an


[Sajian Utama] [Sajian Khusus] [Profil Elektro]
[KOMPUTER] [TELEKOMUNIKASI] [KENDALI] [ELEKTRONIKA] [INSTRUMENTASI] [PII NEWS]

Please send comments, suggestions, and criticisms about ELEKTRO INDONESIA.
Click here to send me email.
[Edisi Sebelumnya
© 1996-1998 ELEKTRO Online.
All Rights Reserved.