TELEKOMUNIKASI
ELEKTRO INDONESIA Nomor 1, Tahun I, Juli 1994

[ Daftar Isi ]
[ Nomor 2 ]
[ Nomor 3 ]
[ Nomor 4 ]
[ Nomor 5 ]
[ Nomor 6 ]
[ Nomor 7 ]
[ Nomor 8 ]
Peluang Sektor Swasta di Lingkungan Telekomunikasi 

Suatu contoh mengenai peluang sektor swasta di bidang telekomunikasi di Indonesia dan Asia Pasifik adalah kasus PT Pasifik Nusantara (PSN) 

Sejarah PSN 
 

PT Pasifik Satelit Nusantara didirikan pada tahun 1991 dengan tujuan mengaktifkan kembali Satelit Palapa B1 danmengambil peluang terhadap kekosongan supply transponder dikawasan Asia Pasifik yang pada saat itu dalam posisi tidak di pergunakan oleh PT Telekomunikasi Indoenesia (Telkom). 

PSN adalah suatu perusahaan yang didirikan oleh Prof. Iskandar Alisyahbana dan Adi Rahman Adiwoso. PSN meminta ijin kepada Pemerintah Republik Indonesia agar dapat mempergunakan Palapa B1 untuk memberikan jasa-jasa pelayanan satelit di luar kawasan Indonesia. Pemerintah mengijinkan PSN untuk membrikan pelayanan tersebut dan juga untuk memperluas kepemilikan sahamnya dengan mengikutsertakan PT Telkom sebagai pemegang saham dengan prosentase kepemilikan sebesar 40% dari PSN. Selanjutnya PT Elektrindo Nusantara (EN) juga ikut serta dengan memberikan Seed Capital dengan prosentase kepemilikan sebesar 30%. Sehingga pada akhir tahun 1991 perjanjian "join Venture Agreement" di tandatangani antara pendiri-pendiri PSN,PT Telkom dan EN. Pada tanggal 29 Desember 1991 PSN memiliki Palapa B1 dengan nama Palapa Pacifik 1,dan pada bulan Januari 1992 Pemerintah Republik Indonesia telah mengajukan permohonan filing kepada ITU untuk mendapatkan 3 lokasi bagi Palapa Pacifik 1, 2 dan 3 pada lokasi 134, 139 dan 144 derajat Bujur Timur. 

Pada awal Januari 1992 PSN mengadakan suatu Press Realese dalam acara Pacific Telecommunication Conference yang diterima dengan baik oleh para peserta dan press. Bulan Januari 1992 Palapa B1 digeser dengan teknik minimum fuel untuk mencapai lokasi 134 derajat, posisi ini dapat dicapai pada bulan Juli 1992. Selama periode bulan Februari - Agustus 1992 dibangun Stasiun Bumi untuk peralatan Telemetry Tracking & Comman untuk mengoperasikan Palapa Pacific 1 pada posisi 134 derajat di SPU Cibinong. Pada akhir tahun 1992, PSN telah berhasil memasarkan transponder-nya kepada Piltel & PLDT, suatu perusahaan Philipina yang memiliki lisensi untuk Cellular. Di akhir tahun 1992 PSN telah berhasil meraih keuntungan, begitu pula pada tahun 1993, dan diharapkan keadaan ini berlangsung terus dan menjadi lebih baik untuk masa-masa yang akan datang. 

Di samping itu pada tahun 1992 PT Telkom merencanakan untuk mengadakan pembelian Palapa C dan PSN menyatakan keinginannya untuk ikut serta dalam pembelian tersebut sehingga Palapa C juga bisa lebih besar dan memberikan biaya per transponder menjadi lebih rendah bagi masing-masing investor. Hal itu di setujui oleh PT Telkom dan direstui oleh Pemerintah. Oleh karena itu PSN ikutmembeli 6 Transponder pada frekuensi Extended C-Band yang baru dibuka pada World Radio Conference di tahun 1988 di Palapa C1 dan C2, sehingga pada tahun 1992 PSN telah mulai mengoperasikan Papala Pacific 1 dan ikut membeli 12 transponder Extended C-Band pada Palapa C yang baru akan diluncurkan pada tahun 1995 dengan nilai investasi sebesar lebih kurang US$ 50 juta. 

Pada tahun 1991, pada saat PSN didirikan, Regulasi Pemerintah memang belum mencakup semua kemungkina-kemungkina bagi usaha swasta untuk menjasi suatu caririer di dalam negeri oleh Indonesia. PSN pada waktu itu adalah carrier Indonesia maupun ke luar dan masuk Indonesia. Tantangan ini akan terus dihadapi oleh PSN dan diharapkan bahwa kondisidari situasi regulasi dan kesempatan dalam pengambangan telekomunikasi swasta di Indonesia ini dapat dimanfaatkan bagi kepentingan seluruh pemakai jasa telekomunikasi. 

Latar Belakang

Setelah pemaparan tentang sejarah pendirian PSN, maka akan diuraikan pula peranan swasta di bidang telekomunikasi di Indonesia, terutama di kawasan Asia Pasifik sebagai suatu kawasan yang memiliki potensi pengembangan jaringan telekomunikasi dan jasa-jasa, maka kesempatan ini sangat besar untuk dapat diraih oleh swasta untuk ikut berperan serta dalam usaha telekomunikasi. Terutama juga dilihat dari perubahan Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1993 dan Keputusan Menteri No. 39 Tahun 1993 memperlihatkan bahwa kemungkinan peranan swasta itu dapat diperluas dan ditingkatkan. Dalam hal ini agar dapat meyelenggarakan jasa telekomunikasi di Indonesia dapat dilihat dari 3 kemungkina sebagai berikut: 
  1. Perusahaan Patungan
  2. Kerjasama Operasi
  3. Kontrak Manajemen
Yang akan menimbulkan usaha untuk menggarap sektor telekomunikasi yang sangat luas. 

Dalam kesempatan ini akan diuraikan pula pandangan-pandangan mengenai peranan broadcasting, bukan dari masalah broadcasting-nya saja atau penyiaran televisi melainkan juga akibat-akibat yang akan terjadi dimasa yang akan datang dan juga kesempatan yang ada dalam sektor swasta ini. 

Di dalamera globalisasi ini terlihat banyak masuknya TV asing di kawasan Asia Pasifik dan juga operator satelit asing di luar kawasan Asia Pasifik yangmencoba untuk memberikan jasa-jasanya seperti Panamsat, dll. Di Indonesia juga sudah ada badan penyelenggara lain di luar BUMN, yaitu Indosat & Telkom yang menyelenggarakan jasa telekomunikasi berdasarkan usaha patungan, yang salah satunya adalah PT Satelindo, kemudian Ratelindo dan yang paling tua adalah PT PSN yang Joint Venture Agreement-nya ditandatangani pada akhir tahun 1991. 

Ketiga penyelenggara ini mempunyai keunikan masing-masing, tetapi rata-rata bergerak di dalam bidang Wireless System diperlukan waktu yang lama dan telah dilakukan oleh establish company seperti PT Telkom ataupun Indosat. Peluang sektor swasta di dalama hal ini sangat besar, jasa-jasa telekomunikasi akan bertambah rumit dan juga bertambah luas. Oleh karena itu , berikut ini akan dijabarkan latar belakang mengenai peluang-peluang sektor swasta. 

Masalah broadcasting di kawasan Asia Pasifik 

Masalah broadcasting di Asia Pasifik ini mulai dijadikan ajang pertempuran oleh pemilik program dan/atau broadcaster dunia, baik dari Amerika maupun dari Eropa, terlihat dengan APSTAR-2 yang pangsa pasarnya dibuat oleh "The American Broadcasting Entities", seperti Turner, Viacom, HBO, dll., dan juga ada gerakan dari Eropa seperti Pierson Group, Canal France,dll. Di lain pihak di dalam wilayah Asia Pasifik sendiri terlihat adanya keinginan segara-negara Australia & New Zealand ikut bermain di dalamnya, dan yang paling akhir dan paling penting adalah adanya keinginan oleh broadcaster dari Asia Pasific sendiri untuk menguasai pasarnya. Di Indonesia sendiri telah memulai dengan deregulasinya dalam penyiaran televisi, sehingga yang tadinya hanya ada milik pemerintah, sekarang sudah ada 6 televisi swasta yang diantaranya 5 sudah beroperasi. Broadcaster-broadcaster ini tidak mempunyai ketakutan ataupun keprihatinan terhadap geopolitical ataupun geographical boundaries, sehingga mereka melihat pangsa pasar yang empuk di kawasan Asia Pasifik, yang berpenduduk 4,8 Milyaryang belum memiliki pilihan-pilihan yang cukup dalam mendapakan sajian-sajian televisi sehingga merupakan market yang sangat baik. Di lain pihak, di Amerika dan Eropapeningkatan revenue para broadcaster sudah mencapai tingkat saturasi sehingga mereka perlu mencaaripasar baru untuk dapat memperlihatkan kenaikan kinerja usaha sehingga dapat mempertahankan nilai-nilai prospek mereka. Hal ini sangat penting untuk "survival" mereka karena bilamana prospek mereka terlalu rendah akan menjadi target akuisi atau merging (disregaard), yang telah dilakukan akhir-akhir ini oleh para progranner dan broadcaster. Salah satu contoh adalah merging dari Paramount oleh Viacom yang cukup ramai selama 6 bulan yang lalu. 

Jadi untuk internasional broadcaster, masuknya ke Asia Pasifik adalah "survival" dan "future" mereka sebagai player di Amerika, Eopa maupun secara global. Sedangkan masuknya broadcaster Asia Pasifik di kawasan ini adalah untuk memperbanyak pilihan dan mempertahankan pangsa mereka. Hal ini akan membuka pangsa pasar di sektor swasta maupun lainnya yang sangat besar karena broadcaster memiliki kepentingan sebagai berikut : 

  1. Kepentingan untuk mendapatkan atau memiliki program-program yang menarik.
  2. Mendapatkan penonton, viewer atau yang dikenal dengan istilah "eyeballs"
  3. Mendapatkan collection play atau penerimaan yang bisa diterima baik secara Free air dari advertising atau menurut subscriber seperti yang dilakukan oleh Malicak di Indonesia.
Ketiga kepentingan ini adalah untuk mendistribusikan program dan mendapatkan penetrasi penonton yang paling banyak dan satelit adalah yang paling baik dengan beaya ekonomis. Hal ini juga ditambahkan dengan teknologi broadcasting yang sedang dalam proses kristalisasi yaitu interaktif multi media yang akan meningkatkan nilai programnya dan oleh karena itu bisa menurunkan beaya perjam jauh lebih rendah dibanding gengan Free to air. 

Sebagai contoh : 

    Untuk suatu seri film Mc Gyver dibutuhkan lebih kurang US$ 10.000,- yang perlu dibayar oleh broadcaster untuk lokal saja, apabila akan didistribusikan ke seluruh Indonesia dibutuhkan beaya sebesar kurang lebih US $ 35,000 - 45,000 per jam. Oleh karena itu mereka perlu mendapatkan lebih dari US $ 50,000 dari advertising. Tetapi di lain pihak seri Mc Gyver itu sendiri apabila dikaji oleh interatif multi media mungkin penghasilannya bukan hanya US $ 50,000 tetapi bisa mencapai US $ 300,000 dengan tata cara yang dapat diberikan oleh multi media tersebut. Kesempatan menciptakan nilai tambah terhadap program tersebut akan membuka peluang yang besar kepada sektor swasta.

Latar Belakang Telekomunikasi Asia Pasifik

Di dalam telekomunikasi sendiri terlihat mulai adanya second carrier di mana-mana, misalnya di Indonesia Satelindo dan di Malaysia ada Bina Riang dan Lian Tung di China, Jepang, Australia, dll. Ini akan menjadi trend yang terus berjalan, dengan dibukanya kesempatan ini, maka jasa-jasa telekomunikasi pun akan berkembang seperti : Dari fix menuju mobility, dari mobility menuju interactive, Data Communications, Choice Users Group, dll. Maka dari itu dimungkinkan adanya tembusan baru yang akan memberikan World of Choices kepada pelanggan dalam berkomunikasi. 

Pilihan-pilihan ini akan terus bertambah dengan adanya Cellular oleh Rajasa di Indonesia, Satelindo di GSM, elektrindo di AMPS, Ratelindo di Fix Cellular, TUK oleh Telkom dan mungkin ada GSM yang akan datang di daerah lain dan tidak mungkin adanya suatu personal telecommunicatioon network dan mobile satellite base customer. Dalam jangka waktu 5 atau 6 tahun kelihatan piliha-pilihan tersebut akan meningkat dan tidak mungkin kita menyelasaikan masalh ini dengan teknologi telekomunikasi yang talah lalu. 

Kesempatan Swasta

Kesempatan swasta yang terjadi dari perkawinan broadcaster dan telekomunikasi ini sangat luas karena perbedaan-perbedaan dan kerahasiaannya. Salah satu contoh adalah rencana PSN untuk mendudukkan usahanya dalam posisi yang kuat di kawasan Asia Pasifik. Pada tahun 1993 Pemerintah Republik Indonesia telah membrikan ijin kepada PSN untuk dapat menyelenggarakan jasa telekomunikasi dalam bidang Mobile Satellite. Pada bulan September 1993 Pemerintah telah mengajukan permohonan filinf untuk Mobile Satellite di Geostationers orbit yang kemudian diberi nama Garuda I, II, III dan IV pada lokasi : 80,5, 118, 123,5 dan 135 derajat. Satelit ini akan memiliki antena dua buah dengan aperture 8 meter dan mencakup kawasan Asia Pasifik seperti : Australia, New Zealand, Dataran Asia, Jepang, China, Saudi Arabia dan Indonesia. Kemampuan satelit adalah sekitar 500.000 - 1.000.000 pelanggan atau 12.000 - 14.000 pembicaraan sekaligus. Proyek tersebut bernilai US $ 800 - 900 juta dan itu merupakan angka yang besar untuk PSN. PSN mulai membicarakannya dengan partner-partner Asing dikawasan Asia Pasifik di akhir tahun 1993, untuk melihat kemungkinan menangani proyek ini bersama-sama dan mendapatkan dukungan dari pemerintah bahwa Regional Mobile Satellite lebih baik dari pada " Just the Domestic Mobile Satellite". Untuk itu masing-masing pihak bertanggung jawab untuk menyediakan kapital sebesar 250 - 300 juta US $. Pada saat ini PSN baru memiliki aset sebesar US $ 20 juta dan pada saat Palapa C1 dan C2 mulai beroperasi PSN memiliki aset sebesar US $ 70 juta. Untuk dapat mengerjakan Garuda, maka PSN perlu melakukan restruktirisasi untuk memperkuat modal PSN dan mengkaji cara untuk mendapatkan modal. Banyak pihak yang mendukung PSN dalam mewujudkan proyek ini. 

Setelah satu tahun persiapan PSN telah siap untuk membangun Garuda I dan II dengan partner asing untuk kawasan Asia Pasifik. Saat ini dibutuhkan penetrasi 130 orang untuk 1 juta penduduk dilihat dari jumlah pemakai Cellular dan di tahun 2000 penetrasi yang diperlukan sekitar 5-6% dari jumlah pemakaian Cellular di Asia Pasifik, oleh karena itu peluang bisnis sangatlah besar. Mobile Satellite memungkinkan adanya jaringan-jaringan dalam negeri dan luar negeri yang dapat dibagi sesuai dengan masing-masing keperluan. Akan sangat lebih baik apabila dapat mengadaptasi Regional Satellite System. Peranan swasta atau perluasan jaringan jangan hanya terpaku pada pengembangan jasa Cellular, namun perlu berpikir yang dapat dijangkau 5 - 6 tahun yang akan datang. 

Sebagai penutup, akan disampaikan bahwa demi perluasan usaha telekomunikasi, diperlukan adanya tantangan untuk mengambil inisiatif tanpa hanya ingin mengambil porsi yang telah disediakan oleh PT Telkom atau Indosat saja. Dengan sendirinya harus berani berinovasi sehinnga bisa membantu mencari tembusan agar para pelanggan banyak mempunyai pilihan. Kita tidak perlu takut karena sekarang hanya ada 2 juta SST dan akan menjadi 7 juta pada tahun 1998. Dilihat dari jumlah penduduk yang akan mencapai 200 juta - 205 juta pada tahun 2000 dengan kenaikan pendapatan perkapita menjadi sekitar US $ 1,500, maka pada saat itu kebutuhan akan meluas dan tidak akan cuma puas dengan fix atau normal Cellular ataupun dengan jasa-jasa yang ada sekarang. Kepada sektor swasta dihimbau untuk tidak terbelennggu kepada peluang-peluang yang telah diciptakan oleh orang-orang sebelumnya tetapi perlu membuat terobosan-terobosan baru yang bisa memperkuat posisi telekomunikasi Indonesia di kawasan Asia Pasifik. q 

Oleh: Ir. Adi Rahman Adiwoso, M.Sc adalah Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN). 

Artikel lain : Manfaat Lampu Hemat Energi & Ballas Elektronik 


[ Daftar Isi ] , [ Nomor 2 ] , [ Nomor 3 ] , [  Nomor 4 ]  , [ Nomor 5 ] , [ Nomor 6 ] , [ Nomor 7 ] , [ Nomor 8

[Home] , [Halaman Muka] , [YPTE] , [Sertifikasi Insinyur Profesional] , [Pengurus BKE-PII]

© 1996-1998 ELEKTRO Online .
All Rights Reserved.