ELEKTRO
Nomor 25, Tahun V, April 1999
SAJIAN UTAMA

TELKOM-1 : Satelit Indonesia Generasi Millenium Ketiga di Kawasan Asia-Pasifik

Home
Halaman Muka

Komputer
Komunikasi
Energi
Elektronika
Awal Millenium Informasi

Time 00:14:12 GMT ESA1 switch to ESA2 Cibinong MCS Telkom-1 Log

Satelit tersebut berbentuk paralel epipedum dengan ukuran kira-kira 1.8m x 1.8m x 3.0 m dan dindingnya terbuat dari bahan graphite epoxy composite. Pada kedua sisinya yang saling berhadapan (Timur dan Barat) terpasang masing-masing sebuah antena parabola dari bahan kevlar dengan diameter 2.159m, sedangkan pada kedua sisi lainnya (Utara-Selatan) tergantung dua panel surya masing-masing empat sektor dari bahan Galium Arsenid dan Silikon effisiensi tinggi yang secara total dapat memberikan daya sebesar 4.5 kW pada akhir umurnya.

Dengan sistem stabilisasi tiga sumbu, pesawat tersebut tak henti-hentinya berfungsi sebagai repeater di atas ekuator pada posisi 108 derajat BT, menerima dan mengirimkan kembali jutaan bit informasi per detik dari/ke puluhan ribu stasiun bumi VSAT (Very Small Apperture Terminal ) yang terletak dalam cakupannya. Satelit tersebut melaju dengan kecepatan 10.728 km/jam tetapi dengan ketinggian orbit sekitar 36000 km, satelit tersebut serasa diam relatif terhadap bumi.

Skenario di atas merupakan imajinasi prognosis terhadap gambaran yang Insya Allah bakal menjadi kenyataan, dan menandai pula suatu titik balik bagi bisnis telekomunikasi di Indonesia dalam menapaki awal abad ke-21. Konsep Satelit TELKOM-1 milik PT TELKOM ini dirancang untuk menjawab kebutuhan pelanggan yang siap bertarung dan bersaing dalam era informasi, di mana kesuksesan karier maupun bisnis seseorang diukur dari seberapa jauh ia mempunyai akses informasi.

Memang satelit ini bukan sekelas Satelit ACeS yang dapat melayani ratusan ribu handphone, dan bukan sekelas Spaceway atau Teledesic yang bakal mampu memberikan akses puluhan ribu VSAT pada frekuensi Ka Band dengan kecepatan bit tinggi 2-6 Mb/s. Tetapi bagi bangsa yang sedang membangun seperti Indonesia serta sebagian besar negara ASEAN, TELKOM-1 dapat berbuat banyak, khususnya dalam menjelang era informasi.

Salah satu ciri khas yang menonjol dari rekayasa TELKOM-1 terletak kepada daya pancar yang cukup besar (daya pancar isotopis 41 dBW). Untuk memberikan layanan VSAT Internet dengan kemampuan TCP/IP secara receive only seperti layanan DirecPC dari HNS (Hughes Networks System), maka untuk setiap transponder Extended C Bandnya dapat dioperasikan untuk melayani 50.000 pelanggan dengan kecepatan akses hingga 400 kbps. Sedangkan jika digunakan untuk layanan yang sama secara asimetrik jumlah pelanggan yang sama dapat disupport oleh 2 transponder.

Jika dimanfaatkan untuk layanan basic rate ISDN, yaitu 64 kbps, akan dapat memberikan layanan VSAT untuk sebanyak 12.000 terminal per transpondernya. Dengan 12 buah transponder, akan diperoleh 144.000 VSAT yang memungkinkan setiap orang untuk dapat mengoperasikan akses internet kecepatan tinggi setingkat ISDN melalui satelit TELKOM-1, tak peduli dimanapun ia berada asal masih di dalam lingkupan atau footprintnya. Cakupan Satelit Telkom-1 meliputi seluruh Indonesia dan Asia Tenggara, hingga ke Hongkong, Taiwan, Papua Nugini dan Australia Utara. kemampuan seperti ini adalah suatu permulaan yang baik bagi tumbuhnya minat akan informasi yang sangat penting bagi masyarakat modern.


Sebagai wahana penerus misi dari satelit Palapa B2R, maka 24 transponder yang dimiliki TELKOM-1 akan melanjutkan fungsi 24 transponder Palapa B2R dengan lebih baik karena daya pancarnya berlipat 3 kali lebih kuat, sehingga secara operasional akan diperoleh marjin yang cukup, yang berarti kualitas pelayanan kepada pelanggan lebih baik.

Turning point

Sejak awal, founding fathers republik ini perlu mendapat acungan jempol. Bukan saja mereka telah berhasil menerapkan konsep negara kesatuan dalam kehidupan sosial politik bangsa Indonesia, lebih-lebih lagi adalah keberanian generasi penerus ditahun 70-an untuk memutuskan penggunaan wahana satelit yang telah menjadi komponen strategis dalam kehidupan sosial ekonomi dan politik bangsa.

Dengan luasnya daerah cakupan yang sulitnya geografis Indonesia, temuan teknologi satelit geostasioner yang dicontohkan aplikasinya oleh sistem Intelsat maupun Westar serta Anik, telah memberikan ilham kepada para penentu keputusan waktu itu untuk meluncurkan satelit geostasioner Palapa A, pada 17 Agustus 1976, yang dinobatkan sebagai satelit domestik ketiga sesudah Amerika Serikat dan Canada.

Beberapa saat sesudah momen yang bersejarah itu, seluruh ibukota kabupaten di Indonesia sudah dapat menjangkau siaran TV nasional, suatu elemen perekat bangsa yang tak bisa dipungkiri. Dengan sistem Single Channnel Per Carrier (SCPC) serta sistem Pre Assigned, seluruh ibukota propinsi dan kabupaten dengan cepat terhubung oleh sistem komunikasi satelit. Fungsi tersebut masih berlanjut hingga 20 tahun kemudian, bahkan jumlah stasiun bumi yang terpasang pada sistem Palapa B (ada 2 satelit) telah mencapai 20 ribu! Tak terbayangkan, bahwa kemudahan-kemudahan kehidupan ekonomi seperti perbankan, sangat amat tergantung kepada sistem satelit, yang menggunakan terminal-terminal kecil VSAT dan satelit untuk dapat bertransaksi data kepada komputer-komputer jarak jauh yang juga terhubungkan dengan stasiun bumi. Demikian pula transaksi data penerbangan dan perjalanan pariwisata, data kependudukan, data-data ekonomi, politik dan sosial, hampir semuanya sangat tergantung kepada keberadaan satelit.

Namun bagi Indonesia ketergantungan tersebut nampaknya tidak akan berakhir. Pertama, jaringan telekomunikasi nasional yang digelar PT TELKOM sangat mengandalkan sistem satelit. Kanal-kanal satelit (jumlahnya lebih dari 20 transponder pada akhir 1998, yang berarti sekitar 10000 sirkuit) sangat memegang peranan untuk menghubungkan sentral-sentral SLJJ yang tersebar, khususnya di luar Jawa dan terutama di Indonesia bagian Timur. Untuk meningkatkan availability dari jaringan, maka hampir seluruh link terrestrial (seperti gelombang mikro maupun serat optik) perlu link kontingensi, menjaga bila terjadi sesuatu dengan keberadaan link-link tersebut. Trend tersebut akan semakin bertambah sesuai dengan kebutuhan kanal yang meningkat dari tahun ketahun.

Kedua, penggunaan teknologi satelit sebagai jaringan akses, khususnya untuk akses internet/ intranet atau multimedia, akan menjadi semakin menarik mengingat kemampuan akses pada pita lebar yang dapat dilayani oleh satelit. Erat dalam kaitan ini ialah distance learning bagi angkatan kerja Indonesia untuk memperoleh kesempatan meningkatkan keterampilan dan akses kepada informasi. Dalam rangka peningkatan mutu pengajaran dan mutu pendidikan sudah selayaknya Indonesia secara lebih intensif menggunakan wahana satelit, utamanya dalam menjemput abad informasi yang penuh dengan kompetisi ini.

Ketiga, untuk melayani pelanggan yang tempatnya sangat terisolasi dan terpencil dari kota besar, dimana solusi wired line maupun wireless technology terasa amat mahal, maka satelit akan tetap merupakan suatu wahana alternatif.

Generasi Satelit TELKOM

Dengan keputusan menggeluti kembali teknologi serta bisnis satelit dalam porfolio manajemen dan bisnisnya, maka timbul euphoria yang baru di lingkungan TELKOM untuk memandang bidang satelit ini sebagai suatu bidang bisnis yang tak terpisahkan dari agenda utama PT TELKOM, dan bahkan menempatkannya sebagai suatu alat produksi strategik perusahaan.

Tahun 1999 ini akan segera diluncurkan sebuah satelit pengganti Palapa B2R, yang disebut satelit TELKOM-1, dengan performansi yang jauh di atas satelit pendahulunya(Lihat Tabel). Sistem ini akan dimanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk menjawab kebutuhan akses kecepatan tinggi secara komplementer terhadap akses kabel tetapi dengan penggelaran yang lebih cepat. Termasuk dalam pelayanan ini ialah pelayanan akses multimedia berbasis satelit dengan berlabel Telkomnet Turbo.

Tabel : Perbandingan Sistem Satelit Domestik Indonesia.
Nama Palapa-A Palapa-B Palapa-C Telkom-1
Type HS-333 HS-376 HS-601 LM-A2100
Kapasitas 12 Transponder 24 Transponder 34 Transponder 36 Transponder
EIRP 30 dBW 33 dBW 37 dBW 38/41 dBW
G/T 1 dBK 1 dBK 1 dBK 1 dBK
Reliability 0.7 0.7 0.75 0.8
Life Time 7 Tahun 9 Tahun 12 Tahun 15 tahun
Peluncur Delta 2914 Space Shuttle Ariane-4 Ariane-5
Gambaran
Visual
Palapa A
Palapa A
Palapa-B
Palapa B
Palapa-C
Palapa C
Telkom-1
TELKOM-1

Di Telkom, konsolidasi sumberdaya manusia bidang teknologi dan bisnis satelit tengah dikerjakan, termasuk memberikan kesempatan training, serta sekolah (post graduate) untuk memperdalam bidang tersebut. Beberapa insinyur muda dikirim ke pabrik-pabrik satelit untuk magang, dengan target untuk memperoleh kecakapan industrial. Secara total kekuatan SDM satelit TELKOM memang masih harus ditingkatkan kembali disaat saat mendatang, terutama dari segi marketing serta merging strategy, mengingat bahwa satelit selalu mempunyai kecenderungan untuk melingkupi berbagai negara dalam satu cakupan.

Wahana satelit, karena alamiahnya, sangat memungkinkan berkembangnya cakupan bisnisnya untuk merambah pasar regional atau internasional, terutama pelayanan akses satelit. Contohnya ialah satelit PCS / mobile yang selalu bersifat global, seperti Iridium, Globalstar, AceS, dst., maupun untuk pelayanan-pelayanan informasi digital kecepatan tinggi seperti Spaceway, Teledesic dlsb.

Adalah juga merupakan suatu hal yang wajar bila TELKOM membenahi secara terkonsolidasi, upaya-upaya pengembangan sistem-sistem satelitnya yang ada untuk diperbaharui dengan pendekatan teknologi, pasar serta bisnis akses satelit dimasa-masa mendatang.

Oleh:
Dr. Arifin Nugroho, Kepala Program Satelit Telkom-1 PT. TELKOM dan Ketua Asosiasi Sistem Satelit Indonesia.

Artikel lain:

  • W-CDMA sebagai Teknik Akses Sistem Komunikasi Bergerak Generasi Ketiga

  • | KOMPUTER | | KOMUNIKASI | | ENERGI | | ELEKTRONIKA |

    Please send comments, suggestions, and criticisms about ELEKTRO INDONESIA.
    Click here to send me email.
    | Halaman Muka |
    © 1996-1999 ELEKTRO Online.
    All Rights Reserved.