Kompetitor Energi di Akhir Milenium Kedua

Hendri F. Windarto*, Heri Siswono* dan Tegas Sutondo**

Pembangkit listrik sangat diperlukan untuk menggerakkan roda pembangunan di semua bidang. Pada saat sumber energi suatu pembangkit melimpah di saat itu pula biaya pembangkitan akan murah. Begitu juga sebaliknya, pada saat sumber energi mulai berkurang, maka di saat itu pula biaya pembangkitan akan menjadi mahal. Contoh yang nyata mengenai hal tersebut di atas adalah Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Minyak Bumi atau Pembangkit Listrik Konvensional.

Biaya pembangkitan listrik dipengaruhi oleh dua hal utama, yaitu biaya bahan bakar, dan biaya operasi dan pemeliharaan. Pada pembangkit listrik berbahan bakar fosil menunjukkan bahwa biaya bahan bakar mencapai 80% biaya total pembangkitan listrik. Sedangkan pada pembangkit listrik tenaga nuklir, biaya bahan bakar mencapai 50% biaya total pembangkitan listrik. Sisanya adalah biaya operasi dan pemeliharaan, 20% untuk pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan 50% untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Dari hal tersebut di atas dapat terlihat tingkat ketergantungan pembangkit terhadap harga bahan bakar di pasaran.

Kompetisi Biaya Pembangkitan

Data yang diambil pada tahun 1981 sampai tahun 1994 di USA pada Gambar 1 menunjukkan bahwa biaya pembangkitan untuk nuklir paling rendah dibanding batubara, gas alam atau minyak bumi pada tahun 1981, kecuali terhadap tenaga air. Pada saat itu biaya pembangkitan oleh nuklir sebesar 0.02 dolar setiap kilowatt jam dan 0.03 dolar/kWh, 0.05 dolar/kWh, 0.09 dolar/kWh masing masing untuk batubara, gas alam dan minyak bumi.

Setelah bertahun tahun sejak nuklir digunakan, sang kompetitor ini jatuh dan mensejajarkan diri dengan pembangkit batubara pada sekitar tahun 1986. Tahun tersebut untuk pertama kalinya biaya pembangkitan batubara di bawah nuklir. Sejak saat itu pembangkit batubara menyatakan diri sebagai pembangkit paling murah. Nuklir jatuh disebabkab karena biaya tambahan yang makin meningkat untuk peningkatan pembinaan sumber daya manusia dan biaya operasi yang berhubungan dengan kecelakaan pembangkit Three Mile Island pada tahun 1979. Tetapi perbedaan biaya pembangkitan dua kompetitor ini cukup kecil, yaitu 0.0192 dolar/kWh untuk batubara dan 0.02 dolar/kWh untuk nuklir pada tahun 1994. Dan biaya pembangkitan untuk nuklir dan batubara masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan gas alam dan minyak bumi, masing masing sebesar 0.029 dolar/kWh dan 0.032 dolar/kWh. Dengan menerapkan perencanaan dan teknik manajemen baru secara terpadu dan menyeluruh, biaya pembangkitan nuklir masih dapat dikurangi.

Biaya Bahan Bakar

Biaya bahan bakar untuk pembangkit berbeda antara satu dengan lainnya. Secara umum, biaya bahan bakar untuk pembangkit berbahan bakar fosil adalah 80% dari biaya pembangkitan. Sedangkan biaya bahan bakar untuk pembangkit nuklir adalah 50% dari biaya pembangkitan. Dari Gambar 1 menunjukkan pembangkit bahan bakar fosil memberikan kontribusi biaya pembangkitan yang makin murah pada sekitar tahun 1985. Hal ini disebabkan jatuhnya harga bahan bakar tersebut di pasar dunia hingga saat ini. Sampai kapan hal ini terus berlangsung masih meninggalkan tanda tanya. Dengan prosentase biaya bahan bakar sebesar 80% untuk pembangkit bahan bakar fosil dan ketergantungan dengan situasi pasar seperti tersebut di atas dapat menggambarkan ketidak stabilan pembangkit tersebut.

Gas "Greenhouse"

Pada tahun 1990 di Rio de Janeiro, USA dan negara negara lain menyatakan perang terhadap musuh musuh kasat mata yaitu gas gas "greenhouse". Menurut hasil studi yang berjudul "Impact of Nuclear Energy on U.S. Electric Utility Fuel Use and Atmospheric Emissions: 1973 1995" menyebutkan bahwa energi nuklir adalah faktor tunggal yang paling penting di dalam pengurangan emisi karbon sebesar 1.9 milyar metrik ton CO2"> untuk sektor kelistrikan di USA. Tanpa nuklir, bahan bakar fosil sudah digunakan untuk memproduksi listrik bagi pertumbuhan ekonomi USA dan kebutuhan yang meningkat karena pertambahan penduduk. Dengan peningkatan kebutuhan listrik rata rata 40% sejak tahun 1973 dan penggunaan bahan bakar fosil, 3.2 milyar ton batubara, 3.37 trilyun meter kubik gas alam dan 2.2 milyar barrel minyak bumi, dengan unjuk kerja nuklir pada tahun 1987 1989 sebagai dasar pertimbangan, maka emisi gas karbon atau CO2 dapat dikurangi sampai 37 juta ton per tahun dari tahun 1990 sampai tahun 1995. Emisi CO2 secara nasional telah menurun 25% karena penggunaan pembangkit nuklir dibandingkan jika bahan bakar fosil digunakan. Pembangkit nuklir telah membantu mencegah pengeluaran 146 juta metrik ton emisi karbon pada tahun 1995. Dari hasil ini diharapkan tercapai program nasional pengurangan emisi karbon sampai 108 juta metrik ton per tahun, sehingga akan diperoleh stabilitas emisi gas "greenhouse" sebesar level tahun 1990 pada tahun 2000.

Masih banyak dokumen dokumen hasil studi yang menyatakan keuntungan demi terciptanya lingkungan bersih dengan menggunakan energi nuklir. Studi tersebut menyatakan pembangkit nuklir telah membantu pengurangan emisi sebanyak 75 juta ton SO2 dan 32 juta ton NOx secara komulatif antara tahun 1973 sampai dengan tahun 1995. Pada tahun 1995, pembangkit nuklir mengurangi 5.1 juta ton SO2. Dan ini merupakan hampir setengah dari jumlah target yang disepakati oleh program yang disebut dengan "Clean Air Act Amendments of 1990". Energi nuklir juga mecegah pelepasan 2.5 juta ton NOx, dimana nilai ini melebihi dari target yang ditentukan sebesar 2 juta ton NOx oleh Clean Air Act Amendments of 1990 tersebut di atas.

Biaya Pembangkitan

Biaya pembangkitan nuklir menjadi primadona kembali setalah ada peningkatan efesiensi. Biaya pembangkitan nuklir turun dari 0.0207 dolar/kWh menjadi 0.0189 dolar/kWh pada tahun 1995. Penurunan ini konstan sebesar 8.7% untuk kurs dolar 1995. Beberapa pembangkit nuklir terbaru mencapai biaya pembangkitan sampai 0.012 dolar/kWh. Hal tersebut bisa dicapai karena beberapa pembangkit nuklir terbaru tersebut meningkatkan kapasitas faktor dari 75.1% menjadi 78.8%. Kapasitas faktor adalah unjuk kerja pembangkit nuklir yang dihitung berdasarkan jumlah listrik yang dihasilkan secara nyata dibagi jumlah maksimum listrik yang bisa dicapai oleh pembangkit tersebut.

Makin menurunnya biaya pembangkitan oleh nuklir sebagai salah satu faktor yang menyebabkan beberapa negara yang akan mengembangkan atau meningkatkan industri nasionalnya, meningkatkan penggunaan energi nuklir bagi negaranya masing masing. Ketergantungan akan energi nuklir dari beberapa negara dapat terlihat pada Gambar 2. Dimana Perancis memimpin dengan memenuhi kebutuhan energi listrik dalam negerinya sebanyak 75% dari kebutuhannya menggunakan energi nuklir. Menyusul negara negara lain seperti Belgia, Swedia, dst. Terlihat pula negara indutri baru seperti Korea Selatan menggunakan energi nuklir sebesar 36% dari kebutuhan listrik nasional.

Kesimpulan

Kebutuhan energi di dunia akan terus meningkat dan proyeksi peningkatannya sebesar 2% per tahun. Hal itu berarti bahwa negara-negara di dunia selalu membutuhkan dan harus memproduksi energi dalam jumlah yang besar sampai dua dekade mendatang. Minyak bumi sebagai sumber energi utama dunia diproyeksikan penggunaannya meningkat sebesar 2% per tahun sampai tahun 2015 mendatang, tetapi dengan perkiraan harga minyak tidak melampaui 25 dolar per barrel sebelum tahun 2015. Pertambahan penggunaan batubara juga terus meningkat sampai 50% pada tahun 2015. Kedua bahan bakar fosil tersebut masih menghadapi persaingan dan pengetatan aturan yang berhubungan dengan emisi karbon ke lingkungan. Penggunaan energi nuklir diproyeksikan mencapai 20% dari penggunaan total energi dunia sampai tahun 2015. Pertumbuhan penggunaan energi nuklir berkembang pesat di negara Perancis dan Jepang. Sementara itu, negara-negara di Asia sedang memulai untuk menggunakan nuklir sebagai pendukung program energi nasional.

Daftar Pustaka

  1. Nuclear Energy Institute, "Electricity Costs: Nuclear Closes Gap with Coal", Nuclear Energy Insight 96, Washington-D.C., September 1996.
  2. Nuclear Energy Institute, "Nuclear Energy: Superhero in the War Against Greenhouse Gases", Nuclear Energy Insight 96, Washington-D.C., July 1996.
  3. Nuclear Energy Institute, "Nuclear Production Costs: Bring on the Competition", Nuclear Energy Insight 96, Washington-D.C., May/June 1996.
  4. Department Of Energy-USA, "World Energy Consumption", p.5-20, International Energy Outlook 1996 - With Projection to 2015, Washington-D.C., May 1996.
  5. Department Of Energy-USA, "Coal", p.49-56, International Energy Outlook 1996 - With Projection to 2015, Washington-D.C., May 1996.
  6. Department Of Energy-USA, "Nuclear Power", p57-64, International Energy Outlook 1996 - With Projection to 2015, Washington-D.C., May 1996.

* Pusat Pengkajian Teknologi Nuklir - BATAN, Jl. KH Abdul Rohim, Mampang, Jakarta Selatan.
** Pusat Penelitian Nuklir - BATAN Yogyakarta, Jl. Babarsari, Yogyakarta.
*** Ditulis pada saat Job Training di Westinghouse Electric Corporation, Energy Center, Monroeville, Pennsylvania, USA.

Artrikel Lain

* Pengembangan Energi Terbarukan Sebagai Energi Aditif di Indonesia


[Sajian Utama][Sajian Khusus][Profil Elektro]

[KOMPUTER][TELEKOMUNIKASI][KENDALI][ELEKTRONIKA][INSTRUMENTASI][PII NEWS]


Please send comments, suggestions, and criticisms about ELEKTRO INDONESIA.
Click here to send me email.

[Edisi Sebelumnya]
© 1997 ELEKTRO ONLINE and INDOSAT NET.
All Rights Reserved.